Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 10/th.IV/Juli/01

PRESIDEN PEREMPUAN*

Oleh : Yunita**

Salam cinta Pembaca budiman!

Kemenangan yang tertunda! Itulah yang dialami Megawati, setelah dia gagal dalam bursa pemilihan presiden pada sidang umum MPR 1999 dan kemudian dengan kesabaran berhasil menggantiposisikan Gusdur lewat Sidang Istimewa yang digelar MPR pada pekan terakhir Juli 2001 yang mendudukkannya menjadi presiden kelima RI dengan Hamzah Haz sebagai wakilnya.

Dari hasil analisis media yang dilakukan buletin Jejak edisi kali ini, proyeksi kepemimpinan Megawati dalam memimpin Indonesia mendatang serta kekhawatiran akan terulangnya kejadian yang dialami presiden sebelumnya banyak diangkat dalam Tajuk maupun headline Kedaulatan Rakyat, Koran Tempo maupun Kompas diakhir bulan Juli ini. Khusus dalam koran Tempo, dalam featurenya diangkat tema perbedaan perempuan dan laki-laki yang khusus disajikan dari segi ilmiah pengetahuan yang menyajikan hasil penelitian terkini tentang perempuan dan laki-laki.

Megawati dan Hamzah Haz: Perempuan dan Laki-laki

Tak jelas apakah kepemimpinan perempuan dan laki-laki akan menguntungkan negeri ini. Yang pasti otak keduanya berbeda, bisa saling melengkapi.

Ada dua pesawat terbang yang dalam keadaan kritis, yang satu dengan pilot perempuan dan lainnya laki-laki. Menurut penelitian para ahli dari John Hopkins university Blooberg school of public health, cara kedua pilot untuk membuat 2 pesawat celaka sangat berbeda.

Berdasarkan hasil analisa kecelakaan pesawat terbang sipil non komersial antara tahun 1983-1997 yang melibatkan 144 pilot wanita dan 287 pilot pria, ternyata pilot wanita seringkali salah dalam mengendalikan sirip ekor, lemah dalam menghadapi guncangan pesawat dan kerap gagal memulihkan pesawat dalam keadaan kritis. Selain itu pilot wanita cenderung terlalu hati-hati dan memiliki perhatian hebat pada detail dan aturan yang ada- ada kabar ibu Megawati sangat taat konstitusi-Yang kesalahan ini disebabkan karena jamterbang dan pengalaman pilot perempuan rata-rata lebih sedikit ketimbang pilot laki-laki.

Sebaliknya pilot laki-laki cenderung mengabaikan akurasi demi kecepatan, kecelakaan pesawat banyak terjadi karena salah mengambil keputusan dan kehilangan konsentrasi.

Dalam keadaan biasa, menurut penelitian lainnya, perempuan ternyata lebih hebat mendeteksi perubahan kecil dalam ekspresi wajah dibanding laki-laki. Dan mungkin menerangkan rahasia dibalik intuisi perempuan-sekedar pesan, siapapun harus ekstra hati-hati bersandiwara didepan presiden dibanding didepan wakil presiden. Dimana kelebihan penglihatan ini disebabkan laki-laki memproses visual di hemisfer kanan sementara perempuan dihemisfer kiri. Hemisfer kanan lebih dimaksudkan untuk memroses penglihatan yang berkenan dengan ruang sekitar. (jurnal Neuropsycologhy, Juli 2001)

Apakah ini berarti perempuan lebih hebat dibanding laki-laki? Tak seperti itu. Para peneliti itu mengungkapakan, temuan ini hanya sekedar fakta bahwa mereka memproses dunia dengan cara berbeda.

Masih ada temuan lain tentang perbedaan dua makhluk Tuhan ini, seperti yang terungkap dalam BBC Newsonline edisi November 2000 yaitu tampaknya laki-laki hanya mendengarkan pembicaraan dengan setengah otak mereka yaitu otak kiri yang diasosiasikan dengan bahasa untuk bercakap-cakap. Sementara perempuan menggunakan kedua belah otaknya. Namun hal ini tidak juga membuat perempuan mendengar lebih baik. Satu-satunya keuntungan adalah bahwa perempuan bisa mendengar percakapan dalam satu waktu.

Apakah perempuan bisa tegas ? Bisa dan bahkan mereka dapat lebih tegas seperti wanita besi, Margareth Thacher, yang pernah menyatakan perang kepada Argentina gara-gara merebut kepulauan Malvinas atau presiden Filiphina, Arroyo, yang sangat keras terhadap pemberontak di negerinya.

Hanya karena evolusi yang membuat laki-laki lebih bengis dan menghadirkan ibu yang demikian bijak. Serta persepsi tradisional tentang gender dapat menerangkan mengapa wanita merawat dan menangani rasa sakit lebih baik dibanding laki-laki.

Itulah perempuan dan laki-laki barngkali itulah mungkin presiden Megawati dan wakilnya Hamzah Haz.

( koran Tempo ;27/07/01)

Kembali tentang presiden perempuan, MUI tidak mengeluarkan pendapat khusus tentang hal ini, karena para ulama MUI sendiri masih berdebat tentang masalah ini dan tidak mau ikut campur urusan politik (www.kompas.com).

Khatimah

Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasann terutama terhadap perempuan. Bagaimana perempuan yang hanya dimitoskan sebagai pelengkap laki-laki, tiba-tiba diakui setara didepan Allah dan mempunyai hak yang sama sebagai penghuni surga (QS Albaqarah, 2:35) .

Bagaimana perempuan yang dicitrakan penggoda laki-laki tiba-tiba dibersihkan namanya dengan keterangan bahwa yang terlibat dosa kosmis adalah kedua duanya.

Bagaimana dulu bangsa Arab yang jahil yang suka membunuh anak perempuannya diperintah Allah untuk melakukan pesta syukuran (aqiqah) atas kelahiran anak perempuan atau diberikannya hak waris dan persaksian terhadap perempuan dengan kedatangan Islam yang tidak pernah dikenal sebelumnya.

Akibatnya pada awal Islam kaum Hawa ini memperoleh kemerdekaan dan suasana batin yang cerah sehingga sempat tercatat mereka mencatat prestasi yang gemilang baik dalam bidang domestik maupun publik.

Karena politik antropologi yang melanggengkan tradisi paatriarki saja yang menyebabkan posisi wanita makin tergeser dan menjadi bagian minoritas dari masyarakat dan peradaban. Padahal Alquran dan hadist banyak mengisyaratkan bolehnya perempuan untuk aktif menekuni berbagai profesi.

Terlepas dari silang pendapat yang terjadi diantara umat Islam sendiri tentang boleh tidaknya presiden perempuan atau perbedaan perempuan dan laki-laki yang dimuat oleh koran Tempo yang disajikan secara ilmiah lewat penelitian, kita seharusnya tetap memberi kesempatan kepada ibu Megawati dan Pak Hamzah Haz untuk memimpin bangsa yang memang masih terpuruk ini. Bagaimana pendapat anda?

Wallahu’alam bi al-shawab

*)Analisis media disarikan dari berbagai Sumber

**) Reporter Bulletin Jejak



Teologis atau politis ?

Oleh: Afifah. F.H

“Seorang wanita dan seorang pria bersama-sama membentuk sayap bagaikan burung, dengan sayap-sayap itu mereka terbang harmonis menembus cakarawala kesempurnaan yang tak terbatas untuk menemui Tuhannya” (Farough Ahrari)

Secara fitrawi manusia itu punya naluri untuk berkelompok, ada kebutuhan untuk membentuk kesepakatan bersama (konsensus) sekaligus mengangkat pemimpin diantara mereka, ya ..... sebuah kecenderungan untuk memimpin dan dipimpin. Lingkaran inilah kemudian membentuk apa yang disebut sebagai masyarakat (society), sekaligus terbentuknya wilayah bernama desa, kota maupun negara (state).

Ditengah-tengah carut-marut politik Indonesia ini, kita dihentak, untuk berselancar menikmati (suka maupun tidak!) deburan perhelatan hingar-bingar panggung politik, bernama suksesi, Sidang Istimewa (SI) atau apapun namanya yang intinya selalu berkutat pada penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin.

Wacana kepemimpinan seperti yang baru saja kita saksikan bersama ternyata diramaikan dengan pilihan(choice) seorang pemimpin pria atau wanita? Hal yang mengelitik adalah ketika wacana kepemimpinan membawa masuk pada wilayah teologis tidak heran kemudian ramai dibicarakan tentang boleh-tidaknya, halal-haramnya pucuk pimpinan dipegang oleh wanita, dari yang sangat konservatif hingga yang sangat liberal. Ternyata akhirnya....... agama diseret untuk berbicara mengenai persolan ini sekali lagi, hitam atau putih ?

Tulisan sederhana ini tidak hendak asyik masuk kedalam pemihakan halal atau haram, benar atau salah, sekali lagi tidak! Namun, mencoba meneropong fenomena kepemimpinan wanita sebagai wacana teologis maupun politis ditengah masyarakat kita.

Pria atau wanita ? lantas mengapa dengan wanita ? sebuah pertanyaan besar berkali-kali telah dijawab dengan jawaban beragam yang bermuara pada keyakinan yang melatar belakangi pandangan tersebut. Tidak kurang, argumentasi teologis yang syarat dengan pernyataan normatif dalam rangka dukung-mendukung, hingga pada aksi pengerahan masa. Apa yang dapat anda bayangkan, apabila dukung-mendukung ini tidak cepat ditemukan jalan keluarnya, sebab yang kemudian ada dalam benak pendukung adalah saya membela siapa?atau lebih jauh adalah apa yang saya dapatkan ketika membela dia? Sebuah pertanyaan besar yang masih menjadi pertanyaan hingga kita adalah mengapa amat sedikit sikap yang dilandasi argumentasi rasional terhadap sebuah pilihan. Mengapa saya memilih ?

Nampaknya, logika biner (black or white) menjadi landasan pemikiran yang didukung hujan ayat hingga fatwa serta-merta menimbulkan kontroversi dalam wujud pernyataan sikap yes or no, like or dislike, sampai pada tingkat halal atau haram.

Adalah Syaikh Syamsuddin seorang ulama lebanon dalam tulisannya ‘al-Haqiyyatul Sulthon as-Siyasiyatul li-Nisa (kebolehan seseorang perempuan memegang kepemimpinan politik) menegaskan boleh saja seorang perempuan menjadi pemimpin politik apapun. Dalam kaidah ushul fiqh “tidak boleh membatasi yang umum menjadi yang khusus kalau tidak ada keterangan yang spesifik”. Tidak ada pernyataan nash khusus yang melarang wanita untuk menjadi pucuk pimpinan. Lantas..... bagaimana dengan keberatan beberapa kalangan yang menyitir sabda Rosulullah “tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh wanita“(HR. Bukhari) berimplikasi terhadap tafsir tidak bolehnya (baca: haramnya?) wanita memegang pucuk kekuasaan.

Disisi lain para Fukaha mencatat hadis ini diucapkan pada situasi yang tidak diketahui sifatnya, apalagi hukum dimasa lalu berbeda dengan hukum masa kini. Paling tidak, secara singkat dan konvensional dalam ilmu hadis dikenal metode kritik yaitu kritik sanad dan matan untuk menguji kualitas sebuah hadis. Selain dari kedua metode tersebut, apa yang ditawarkan oleh Jalaludin Rahmat, sebuah kritik yang disebutnya sebagai kritik historis, bahwa memahami kebenaran sebuah informasi teks (nash) tentunya dipengaruhi oleh konteksnya, sebuah teks tentu amat dipengaruhi oleh latar belakang sejarah apa yang menyebabkan teks tersebut dilahirkan. Perbedaan memahami konteks ini, kemudian lagi-lagi Jalaludin mengemukakan suatu kritikyang disebutnya kritik hermeneutik dalam memahami konteks sejarah dari suatu nash, karena baginya kita harus meneliti latar belakang politis apa yang melatar belakanginya. Tentunya, yang menjadi pertanyaan di benak kita masing-masing adalah apakah konteks dari nash tersebut masih relevan konteksnya dengan kondisi kini ? Bagimana pilihan anda ?