Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 11/th.IV/September/01


BICARA TENTANG GURU


Salam cinta pembaca,

Masalah guru merupakan satu hal yang menarik untuk dibicarakan. Dalam banyak pandangan, masalah guru selalu berujung menjadi persoalan kesejahteraan. Kehidupan ekonomi para guru umumnya sangat mengenaskan, dikatakan umumnya karena ada pula guru yang pandai nyari sampingan di luar jam mengajar dengan penghasilan sampingan yang cukup besar, namun hal ini bisa dihitung dengan jari. Selebihnya, kehidupan ekonomi mereka di bawah standar hidup layak. Jangankan untuk membeli buku-buku baru yang sesuai dengan perkembangan zaman atau berlangganan koran dan majalah ilmiah untuk makan sehari-hari saja mereka harus bon dulu di warung tetangga.

( kompas,12/09/01 )

Oleh karena itu, wajar bila titik penderitaan mereka sudah sampai ke puncak kulminasi sehinga mereka nekat nglurug ke jakarta untuk meminta belas kasihan pemerintah agar kehidupan mereka tidak terlalu menderita, sepeti yang dilakukan oleh ratusan guru SD-SLA yang mengaku berasal dari Garut Jawa Barat,mereka datang dengan menggunakan empat unit bus dari Garut. senin (10/09) mereka berunjuk rasa di gedung DPR/MPR jakarta. Kedatangan para guru itu ke DPR untuk menuntut pemerintah segera membayarkan rapel kenaikan gaji selama enam bulan yang di hentikan sejak juli lalu dan menuntut kenaikan tunjangan guru sebesar 300 persen serta pembayaran kelebihan jam mengajar. Aksi para guru menuntut rapel gaji ini tidak hanya terjadi di ibukota saja di beberapa daerah juga terjadi hal serupa seperti aksi yang dilakukan guru-guru di daerah banyumas, purwokerto, gunung kidul, kediri, lampung, jambi, dan daerah-daerah lainnya. (KR,12/09/01)

Mogok dan demo guru yang dipicu oleh keterlambatan pembayaran rapel gaji sungguh merupakan sebuah fenomena baru dan mengagetkan banyak pihak. Tak sedikit kalangan yang menyayangkan terjadinya anomali perilaku guru di berbagai daerah itu. Sebaliknya tidak sedikit yang memberi dukungan. Kontroversipun lalu bermunculan.

Namun sebenarnya, dimana letak keganjilan demo dan mogok guru itu? Dalam perspektif makro dan jangka panjang ada sisi positif dari ngambeknya para pahlawan tanpa tanda jasa itu, yang suatu kelak dapat memberi kontribusi bagi upaya peningkatan mutu pendidikan?

Keterkejutan masyarakat dan beberapa kalangan atas terjadinya demo dan mogok guru sebenarnya disebabkan adanya kerangkeng yang selama ini digunakan masyarakat untuk mengurung komunitas profesi guru. Guru diletakkan dalam bingkai nilai-nilai ideal.

Guru harus memiliki karakter yang sempurna, adalah tidak layak bagi seorang guru untuk misalnya, menuntut kenaikan gaji, menanyakan kapan rapel gajinya akan turun, melakukan demo dan mogok. Guru seharusnya juga tidak boleh ribut bila uang penghasilannya tiap bulan disunat untuk ini dan itu. Sekecil apapun imbalan ekonomis atas pengabdiannya, tidak boleh mengeluh. Bahkan kata-kata ”protes” di kalangan guru sering ditabukan. Bila mungkin kata “hak” harus dihapuskan pula dari perbendaharaan guru. Guru identik dengan pengabdian total, meski pahit perlakuan yang di terima. (kompas, 12/09/01).

Hiruk-pikuk perjuangan untuk melakukan reformasi sepertinya telah memberi inspirasi kolegial bahwa guru harus mendobrak kerangkeng yang selama ini membelenggunya. Berbagai stigma yang selama ini dipersonalisasi sehingga menjadikan kinerja dan hidup guru selama ini terseok-seok, harus dibongkar dan dilepaskan. Para guru rupanya mulai menyadari budaya bisu tidak dapat dipertahankan lagi. Guru harus memiliki posisi tawar yang kuat untuk melepaskan dari stigma negatif yang selama ini melekat.

Pertanyaan selanjutnya terhadap para guru kita ini adalah ketika semua tuntutan mereka terpenuhi dan ketika kesejahteraan hidup telah mereka capai, mampukah mereka, para guru-guru ini sebagai seorang profesional dengan prestasi tinggi mampu memelekkan anak-anak bangsa agar menjadi terpandang dan mampu bersaing di dunia atau sedikitnya di lingkungan ASEAN saja. Sebenarnya pertanyaan ini muncul berangkat dari fakta bahwa idiom dasar yang mereka pakai untuk memulai gerakan ini adalah

bagaimana guru bisa profesioanal sedangkan untuk survive dalam hidup ( baca: anak istrinya tidak kelaparan ) saja susah.

Menurut jurnal Educational Leadership (maret 1994) disebutkan ada lima ukuran seorang guru dinyatakan profesional. Pertama, memiliki komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Kedua, secara mendalam menguasai bahan ajar dan cara mengajarnya. Ketiga, bertanggungjawab memantau kemajuan belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. Keempat, mampu berfikir sistematis dalam melaksanakan tugasnya. Kelima, seyogyanya menjadi bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Sedangkan Malcom Allerd, menambahkan selain kelima aspek itu, sifat dan kepribadian seorang guru amat penting artinya bagi proses pembelajaran, yakni adaptabilitas, antusiasme, kepercayaan diri, ketelitian, empati, dan kerjasama yang baik.( kompas, 12/09/01 )


KHATIMAH

Kita sebagai masyarakat pemerhati sekaligus obyek dari perangkat pendidikan di negara ini hanya bisa berharap bahwa aksi demo dan mogok guru ini bisa menjadi stimulan bagi tegaknya keadilan dan perubahan kebijakan pemerintah yang selama ini diskriminatif terhadap para guru khususnya dan masyarakat pada umumnya serta menjadi faktor pendorong bagi para guru-guru kita untuk lebih meningkatkan peran dan profesionalitasnya demi kelangsungan kejayaan bangsa dan negeri kita dikancah perkembangan dunia ini.


Nestapa Guru Dalam Negeri Sarat Beban

Awami

Hari-hari ini begitu banyak ekspresi terperangah wajah dunia yang di tujukan atas ambruknya WTC, Pentagon serta sekitar wilayah Amerika lewat sebuah modus ledak bajak pesawat yang penuh perhitungan dari pihak yang sangat jelas ingin menunjukkan pada negara adikuasa itu bahwa mereka bukan segalanya. Idiom-idiom terorisme kembali menjadi istilah yang begitu merisaukan dan disepakati menjadi musuh publik warga Amerika saat ini. Mereka dan semua kita yang berkepentingan atas kemanusiaan tentu sangat menyesalkan dampak dari ekspresi perlawananan dari sebuah pihak kepada Amerika itu, diluar itu tentu ada ruang introspektif politis untuk bangsa yang sedang luka-luka itu.

Diluar riuh-rendah ragam ungkapan perasaan dan komentar bangsa kita lewat media karena tragedi sejarah diatas tersebut, Media kita kali ini dalam pokok idenya juga mengangkat berita menarik yang sebenarnya sudah klasikal, mengurat dan tetap sepi solusi yakni nestapa kaum guru di tanah air ini. Kali ini mereka meneriakkan tangis nestapa mereka ke rumah rakyatnya di gedung MPR/DPR Senayan. Mereka Ratusan berasal dari guru SD dan SLA di daerah Garut Jawa Barat. Aksi ini menurut media tidak hanya terjadi di ibukota saja, ini terjadi di daerah-daerah lain seperti di Kediri, Lampung, Gunung Kidul, Puwokerto, Banyumas dan Jambi. Mereka meneriakkan kerisauannya akan hak kesejahteraan mereka yang jelas memprihatikan karena sangat tidak relevan dengan kebutuhan dan tuntutan kehidupan mereka sekarang ini, sudah terlantar malah sekarang ini terlambat dan dihentikan rapel pembayaran gaji mereka selama enam bulan, untuk itu kaum guru juga meneriakkan teriakkan lamanya yang makin sumbang yakni kenaikan tunjangan guru dan pembayaran kelebihan jam mengajar. Untuk itu mereka membuat fenomena aksi yang baru dan semakin nyata, mereka mogok kolektif, stop dulu ngajar harus ada penunjukkan sikap sebentuk aksi demo untuk penderitaan ini dan ini terjadi bersamaan dan berdekatan di banyak kota.

Mogok itu pada kata kuncinya adalah sebuah tuntutan yang sangat wajar, lumrah, sepatutnya bahkan kalau tidak disebut berlebihan adalah keharusan yang tidak bisa ditawar atau di tampung lagi. Itu dalam pembacaan kita, yang boleh jadi sudah sangat bosan dan sedih melihat melihat kenyataan hidup para guru-guru kita yang telah membuat kita melek-huruf, berhitung, menulis, semua keterampilan dan kemampuan dasar bagi kita untuk menjadi manusia dan pembelajar yang baik. Persoalan berikutnya, masalah ini hadir lagi di saat negeri ini punya pekerjaan internal besar akibat proses perjalanan kuasa dan memerintah yang terus-menerus problematis atau istilah para politisi adalah orde otoriter yang semu dalam kaitannya sebagai fungsi pembangunan dan pengembangan aspirasi, kualitas hidup dan pencerdasan rakyat. Rejim berganti rejim kuasa berganti kuasa telah meninggalkan beban multi dimensi bagi negeri kita ini, dimensi yang bersifat abstraktif ideologis, seperti tuntutan perlunya visi nasionalisme baru, menata Indonesia dalam fakta pluralitasnya, perjuangan demokratisasi hingga beban konkretual seperti hutang luar negeri, epidemi KKN, konflik di semua lini bangsa, terror politik hingga seperti persoalan guru ini. Disini nampaknya persoalan kesejahteraan dan cita-cita menempatkan profesi guru dalam posisi yang kompatibel dengan profesinya menjadi seperti tuntutan cerewet yang di maknai sambil lalu saja.

Namun bagi sebagian banyak guru pasti bisa merasakan bahwa sebenarnya diluar dari beban internal bangsa ini sekarang, dalam melanjutkan sejarah bangsanya yang sedang carut-marut, sejak dulu memang tidak pernah nampak dan jelas oleh bangsa ini dan pemerintah untuk memunculkan platform serius bagi penghormatan profesi guru dan pendidikan di Indonesia. Jadi persoalannya fenomena mogok massal guru yang cukup membuat kita berpikir betapa merisaukannya mogok ini dalam perhatian kita akan perkembangan pendidikan bangsa kalau ini kerap terjadi. Tentu saja di satu sisi mestinya kita sangat memaklumi ekspresi tuntutan kaum pendidik itu. Kemana sebenarnya semua perhatian bangsa dan pemerintah terfokuskan, bagaimana dengan kenyataan nasib guru yang mengalami nestapa sekian lama.

Tidakkah bangsa ini sadar persoalan guru ini jelas berbanding lurus efektif dengan semakin buramnya cita- cita bangsa ini untuk membangun tradisi intelektualnya. Suatu cita-cita yang sebenarnya dengan sedikit paksa harus dimulai untuk negeri yang baru ingin memulai membangun peradabannya. Kapan kita bisa segera percaya bahwa tidak bisa tidak untuk memulai semua ini kita mesti melangkah lewat pendidikan dan pembenahannya dalam semua aspeknya secara serius dan sedikit berani. Jangan lagi membenamkan dalam kesadaran kita penghormatan terhadap guru-guru sekedar dalam puisi-puisi dan momen-momen yang nampaknya itu artificial. Mereka sudah terlalu lelah, jiwa pendidik yang cenderung sabar itu telah sampai membawa mereka untuk mogok, berteriak, demo demi memastikan kelangsungan hidupnya.

Wallahu ‘alam bi-al-shawab