Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 12/th.IV/Oktober/01

AMERIKA PASCA TRAGEDI WTC


Salam cinta pembaca yang budiman !

Amerika Serikat (AS) dan dunia berduka karena ratusan atau mungkin ribuan orang mati sia-sia setelah tiga pesawat terbang komersial AS ditabrakkan ke dua menara World Trade Centre (WTC) di kota New York dan Pentagon diWashington DC (sebuah pesawat lagi jatuh di Pensylvania sebelum bisa ditabrakkan ke white house) pada 11 September kemarin.Siapapun-kecuali kaum teroris- akan mengutuk tragedi ini. Karena terorisme dilihat dari segi manapun bertentangan dengan nilai kemanusiaan universal dan nilai agama.

Bagi Amerika sendiri, peristiwa itu bukan hanya merupakan tragedi kemanusiaan tapi merupakan kejadian yang memalukan bagi negara superpower ini, karena peristiwa ini berarti bahwa seluruh sistem pengamanan negara yang sangat terkenal kecanggihannya itu (dilengkapi dengan pesawat tempur dan kapal perang paling modern, sistem radar superpeka, aparat intelejen superhebat, sampai sistem pengamanan bandara yang luar biasa ) ternyata dibuat tidak berdaya sama sekali. Disisi lain, penteror sendiri tidak bermodal apa-apa, selain beberapa bilah pisau, ketrampilan memiloti pesawat terbang (yang dipelajari dari AS juga), tekad dan ideologi, keberanian, kecerdasan serta kreativitas.

Kreativitas itulah yang menyebabkan orang AS (termasuk presiden sampai CIA-nya) sama sekali tidak menduga serangan tidak datang dari darat (dengan bom bunuh diri ), melainkan dari udara. Serangan udara itupun tidak dengan pesawat rempur MIG buatan Rusia, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan AS sendiri (sehingga tidak tertangkap radar AS manapun)

Pembajakan pesawat udara juga tidak menggunakan senjata api atau granat, melainkan pisau-piasu kecil yang selama ini memang diijinkan dibawa kekabin pesawat. Pendeknya, segala yang tidak pernah terpikir oleh otak cerdasnya bangsa AS itilah yang dilakukan para teroris itu.

Kala Schwarzenegger dan Rambo Kehilangan Wibawa
Gumpalan darah kemarahan warga AS telah menggunung dan sewaktu-waktu siap ditumpahkan kemana saja. Gambaran AS sebagai negara terkuat -sebagaimana diyakini warganya –tercabik-cabik oleh tragedi WTC dan Pentagon itu. Perasaan kalah dan terhina ini harus cepat berakhir .

Menlu As Collin Powel terjepit. Ia dan kawan intelijen harus bergerak cepat mengumpulkan bukti cukup mengenai Osama Bin Laden dan beking pemerintah Taliban.

Selama ini, AS telah tersupremasi oleh dunia perfilman Hollywood. Sejarah boleh mengatakan AS kalah dimedan perang Vietnam. Tapi melalui sosok Ssylvester Stallone yang memainkan tokoh Rambo berhasil menunjukkan bahwa seorang warga AS bisa mengalahkan satu kompi pasukan komunis Vietnam.

Dengan begitu, lubang-lubang trauma-sebagai bangsa yang kalah-peninggalan perang Vietnam-tertambal sudah. Masyarakat bisa menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa, dengan pencitraan diri yang mencerminkan gejala superiority complex : AS tak terkalahkan.

Namun ketika fiksi-fiksi yang ditawarkan Hollywood menjadi nyata, segalanya menjadi berubah. Hingga minggu kedua serangan teror masyarakat Amerika masih dikuntit bayangan horor. Dan Hollywood pun ikut terinsyafkan dengan kejadian ini. Para produser televisi dan eksekutif bidang ini segera menghentikan distribusi film –film yang berbau teror dan kekerasan. Film Colleteral Damage yang dibintangi Arlnold. S. tidak jadi muncul sesuai jadwal dan juga film Spiderman yang menggunakan gedung WTC sebagai tempat kejadaian cerita dan rencana pemutaran ulang film Pearl Harbour serta sejumlah film lainnya dihentikan. Bahkan poster-poster film tentang terorisme yang menempel di halte-halte bus telah dicopot. Kemungkinan dari hal ini adlah Mereka sekedar ingin lepas dari kejaran hantu WTC dan Pentagon atau memang sosok pendekar mereka telah kehilangan wibawa (Koran tempo, 26/9/01).

Bagaikan lingkaran setan, peristiwa teror itupun membawa dampak panjang bagi kehidupan manusia tidak hanya bagi Amerika Serikat sendiri dan dunia perfilman Holliwood tapi juga seluruh dunia

Munculnya spekulasi bahwa serangan itu dilakukan Osamah Bin Laden dan orang Timur Tengah juga menyebabkan orang Arab dan Muslim di Amerika mengalami teror balik dari warga AS. Tidak hanya pria yang dijadikan sasaran tapi banyak wanita muslimah yang juga diteror, intimidasi dan serangan fisik secara menakutkan.

Tak cukup dengan akibat itu Amerika juga telah mengancam akan melakukan agresi ke Afganisthan dimana kaum Taliban dituduh melindungi Osamah Bin Laden meski Osama dan taliban sendiri telah berulang kali menyatakan tidak beranggung jawab atas serangan ke AS itu.

Hingga senin kemarin Amerika masih terus mengerahkan kekuatan militernya ,yang merupakan mobilisasi paling besar pasca perang teluk, kekawasan Teluk dan Samudra Hindia.

Selain itu Presiden AS George W. Bush memerintahkan untuk membekukan aset yang dimiliki 27 kelompok dan individu yang diduga berkaitan dengan aksi teror untuk memetikan jaringan terorisme, termasuk kelompok Alqaidah pimpinan Osama.

Rencana Agresi AS segera mendapat reaksi keras dari negara-negara Islam. Di Iran, tokoh Syiah terkemuka, ayatullah Makarim Syihrazi menegasakan, negara-negara Islam tidak akan tinggal diam jika ada negara Muslaim yang diserang apalagi dilakukan terhadap warga sipil sementara itu pemimpin Taliban Mullah Muhammad Umar menyatakan, AS harus segera menarik kekuatannya dari teluk dan mendukung bangsa Palestina dalam konflik Israil. Sebab kematian Osama tidak akan mengurangi aksi eror terhadap AS. Presiden Iran, Khatami ,juga menambahkan kalau serangan terhadap Afganistan seharusnya berada dibawah payung PBB. Pernyatan ini berlawanan dengan pendapat presiden AS yang menyatakan bahwa perlawanan terhadap terorismetidak harus seijin PBB ( KR,25/9/01)

Di Indonesia sendiri reaksi kontra terhadap AS terlihat pada aksi unjuk rasa dari berbagai kalangan, Rencana Sweeping warga AS serta rennana pengiriman pasukan jihad keAfganisthan yang menganggap AS telah menerapkan standart ganda dan hamya mengkambinghitamkan Osama Bin Laden.

KHOTIMAH
Rakyat AS belum lupa, ketika Timothy Mc Veigh meledakkan gedung federal di Oklahoma beberapa tahun lalu, semua orang menuduh Osama Bin Laden dan orang Arab (muslim)ada di balik terorisme sadis itu ternyata salah.

Senyatanya, kehadiran aksi terorisme salah satunya disebabkan oleh suatu keangkuhan suatu kelompok bangsa dalam menyikapi kehidupan global. Dalam kondisi seperti itu kelompok yang memiliki power sering menindas kelompok lemah dengan alasan yang dicari-cari. Sebaliknya kelompok yang lemah-dengan berbagai justifikasi-akan mencoba melawan. Fromm(2000)menyebut bangsa yang mengklaim dirinya dengan ungkapan paling kuat,paling hebat, paling berbudaya sebagai sifat narsisme yangmana citra ini akan menaik sampai titik tertinggi seiring dengan merosotnya citra bangsa lain. Kelompok Narsistik akan berbuat semena-mena dan menganggap lawanya sebagai kelompok yang buruk, licik, brutal tak berperadaban dan Buas.

Persoalan akan semakin runyam jika antara kelompok teroris dan bangsa narsistik ini berlainan agama. Bahasa ‘agama’ lalu menjadi wacana kuat mewarnai aksi itu dan balasannya. Biasanya justifikasi agama sering dicomot oleh kelompok yang lemah untuk beraksi dan mencari dukungan.

Alhasil antara terorime dan narsisme sebenarnya dibatasi sekat yang amat tipis. Terlepas pada prbedaannya, keduanya hanya akan berujung pada kebrutalan dan destruktif. Terorisme adalah tindakan destruktif begitu juga jika AS jadi menyerang Afganistan tanpa disertai bukti dan alasan yang dapat dipertanggunggajawabkan. Lebih jauh lagi kedua hal tersebut tidak akan pernah mengantarkan manusia kepada kehidipan umat manusia yamg damai.

AS seharusnya menghilangkan sifat narsistiknya dan bersikap cerdas dalam mencari siapa pelaku teror sehingga tidak terus mengkambinghitamkan Osama Bin Laden dan bangsa Arab serta kaum muslim.

Wallahu alam bi Alsawab