Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 14/th.IV/Oktober/01

 

WAR is TERORISM

Salam cinta pembaca yang budiman !

Minggu malam (7/10/01) kota Kabul gelap, senyap dan tak berawan. Namun tiba-tiba kota yang berpenduduk dua juta orang itu dikejutkan oleh suara ledakan yang sangat hebat yang diiringi dengan matinya listrik di kota itu. Ledakan itu tak lain adalah bom yang di muntahkan oleh pesawat pengebom AS dan inggris sebagai awal dari operasi enduring freedom untuk menumpas terorirme. Dalam serangan udara pertama itu walaupun sasaran utamanya adalah pangkalan militer dan pusat komunikasi “teroris” yang di duga berada di afganistan tetapi tetap saja sekitar dua puluh wanita dan anak-anak meninggal dan lainnya luka-luka. (kompas 10/10/01)

Meskipun sejak tragedi WTC dan pentagon 11 September ancaman gempuran sudah lama didengungkan oleh AS dan menjadi pembicaraan publik internasional tapi ketika hal itu terjadi kita benar-benar terkejut dan prihatin.

Reaksi keprihatinan segera muncul dari sejumlah tempat di dunia termasuk Indonesia. MUI dan beberapa ormas islam yang sempat menyerukan jihad kepada muslimin Indonesia jika AS benar-benar melaksanakan ancamannya itu, sekarang setelah serangan AS itu benar-benar terjadi beberapa ormas Islam itu lalu mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk membekukan hubungan diplomatiknya dengan AS dan menyerukan kepada pengikutnya untuk memboikot seluruh produk Amerika. Paradoksnya kadang pernyataan seperti ini dilontarkan dengan menggunakan produk teknologi barat serta tanpa melihat kondisi Indonesia yang juga belum menyelesaikan masalah dalam negeri, kasus Aceh misalnya, ataupun permasalahan ekonomi Indonesia yang makin merosot serta masalah ketergantungan pangan Indonesia terhadap bahan import. Pemboikotan itu jika jadi dilaksanakan tentunya akan membawa dampak yang lebih besar lagi tentunya .

Sementara itu, Osama sendiri sebagai tersangka utama teror versi AS dalam tampilan khususnya di televisi Al-Jazeera pada Minggu malam kejadian menyerukan jihad melawan AS serta bersumpah bahwa AS tidak akan menikmati keamanan sebelum umat islam menikmatinya dan pasukan asing hengkang dari jazirah arab.

Banyak pihak lebih mengkhawatirkan tentang banyaknya korban yang akan jatuh dari rakyat afganistan yang tidak berdosa, apalagi perang apapun motifnya selalu mengakibatkan korban jiwa dan harta.

RANTAI PENDERITAAN AFGANISTAN

Mata rantai penderitaan memang sulit dilepaskan dari bangsa afganistan. Setelah 10 tahun (79-89) bangsa ini menderita berat di bawah pendudukan Tentara Merah Uni Soviet mereka harus mengalami perang etnik yang berkelanjutan yang akhirnya di menangkan Taliban tahun 1996 yang di bantu oleh Pakistan, AS, dan Arab saudi, dan ternyata dengan kemenangan Taliban itu membawa penderiataan baru lagi, yaitu dengan di terapkannya hukum islam secara kaku, pelarangan wanita untuk sekolah dan keluar rumah serta penindasan dengan legalitas agama. Ditambah denga musim kemarau panjang yang membawa kelaparan. Apalagi dengan serangan AS dan sekutunya ini.

Keadaan inilah yang membuat banyak pihak menilai AS menerapkan standar ganda dalam kebijakan politiknya. HAM hanya menjadi jargon dan wacana sebab realita yang ada AS malah merupakan negara yang mengabaikan HAM dengan penyerangan ke Afganistan sebagai sebuah negara yang berdaulat. AS dianggap berat sebelah dan tidak adil terhadap negara Arab yang notabene mayoritas Islam. Meskipun presiden AS menyatakan bahwa perang yang dilakukannya bukan perang terhadap Islam namun tetap saja ada sikap diskriminasi yang berbau SARA terhadap orang Islam di Amerika oleh warga AS sendiri beberapa waktu setelah teror berlangsung di Amerika.

Terdapat dugaan bahwa apa yang dilakukan AS (yang dulunya membantu Taliban tapi sekarang memeranginya) ini adalah untuk mencari akses ke Timur Tengah yang kaya minyak terutama Lembah Kaspia yang menyimpan 1/6 cadangan minyak dunia. Jika Afgan sudah dikuasai, minyak dari lembah Kaspia bisa disalurkan ke pelabuhan Karachi, pakistan lewat Afganisthan. Sebenarnya Iran merupakan negara yang lebih ideal untuk itu tapi karena Teheran

Jalan menguasai Afganisthan juga dinilai sempit oleh beberapa kalangan karena selain tentangan dari dunia Islam, kondisi topografi Afganisthan yang curam dan terjal akan menyulitkan pasukan darat AS dalam melawan pasukan Taliban yang telah menguasai medan dan konon sangat sulit dikalhkan ini.

Khatimah

Kita sepakat bahwa tindakan terorisme harus diperangi. Tapi memeranginya dengan agresi militer hanya akan menimbulkan lingkaran setan kebencian dan korban sipil yang tidak berdosa.

Sebelum ada putusan hukum atas kejadian 11 September terhadap Osama, AS sebenarnya tidak boleh menyerang Afganisthan meskipun punya bukti kuat dan dalih membela diri. Kalaupun serangan itu sekarang telah terjadi , AS harus segera mengakhiri agresi dan merehabilitasi keadaan dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan. PBBpun harus lebih berinisiatif mengambil langkah bersama untuk memerangi terorisme dan tentu saja tidak dengan agresi militer.

Sebaliknya umat Islam harus lebih arif dalam menyikapi peristiwa ini serta tidak paradoks dalam menyampaikan pernyataan dengan memperhatikan kondisi bangsa Indonesia yang juga masih berada dalam keterpurukan ini.

Wallahu alam bi alshawab


 

Nasehat kepada Para Penguasa*

Kadang-kadang seseorang bingung apa yang harus diucapkannya saat menyaksikan pemandangan haru di Afganisthan saat AS dan sekutunya melakukan agresi militer yang banyak memakan korban sipil tak berdosa terutama wanita dan anak-anak.

Tapi ini adaah ujian dan merupakan kodrat manusia bahwa selama berada di alam ini ujian akan selalu datang. Siapapun itu tak luput dari ujian ini, baik para nabi,auliya atau siapa saja. Yang kadang dalam bentuknya berupa rasa takut, lapar, berkurangnya harta kekayaan, nyawa, pangan dsb. Apalagi orang-orang yang tingal didaerah perang pasti menderita lebih berat lagi. Tapi semua ini adalah ujian dari Allah SWT buat kita semua.

Klaim keimanan kepada Allah tidak lantas membuatnya lepas dari ujian bahkan para nabi utama dan semua nabi menerima ujian. Nabi ibrahim misalnya menerima ujian yang begitu berat yaitu Ia harus menyembelih anak kandungnya sendiri. Demikian juga yang di terima oleh Imam Husain as dan anak cucunya.

Ujian itu selain dalam bentuk kesulitan hidup dapat juga dalam bentuk kesenangan hidup misalnya rasa aman, harta banyak dan kedudukan terhormat. Bahkan ujian ini lebih berat dari kesulitan hidup. Karena itu banyak sekali kita saksikan ketika menghadapi ujian, orang-orang yang dulunya mengklaim dirinya beriman ternyata hanya omong besar. Betapa banyak orang mengklaim kepahlawanan, bahwa ketika saat perang akan berada di baris paling depan tapi ketika perang datang ia justru berada di baris paling belakang.

Gambar-gambar umat Islam yang mengharukan yang kita saksikan di daerah konflik adalah bukti keberhasilan dari kesabaran , sungguh suatu kebangggaan besar bagi mereka. Allah telah berfirman : “dan berilah gembira pada orang-orang yang sabar” ( Qs Al-Baqarah 2:155 )

Pemuda-pemuda kita yang syahid adalah milik Allah, mereka telah mengorbankan diri mereka di jalan Allah dan mereka telah kembali kepada Allah. Memang semua yang dimiliki oleh manusia akan kembali kepada Allah, kehidupan, anak, dan harta adalah anugrah Allah yang semua berasal dariNya, jika manusia menyakini semua adalah titipannya maka ketika ujian datang kita telah berhasil menghadapinya seperti para Nabi dan Aulia yang berhasil menghadapi ujian.

Para pemimpin negarapun tidak akan luput dari ujian bahkan ujian merekapun lebih berat dari pihak lain. Oleh karena itu banyak penguasa yang gagal menghadapi ujian. Banyak di antara mereka yang menghormati HAM bahkan sebelum pada posisinya itu mereka mengklaim sebagai pembela HAM dan menuntut pelaksanaannya. Tetapi sesudah memperoleh jabatan mereka akan menginjak-nginjaknya, orang-orang seperti ini akan mendapatkan murka dan siksa Allah.

Ujian adalah sesuatu yang pasti, tetapi klaim dan pengakuan saja belum cukup bahwa dia beriman kepada Allah, membela HAM, atau jika menjadi presiden maupun memimpin sesuatu akan melakukan ini dan itu. Klaim tersebut belum cukup tapi ia harus membuktikan ketika mencapai semua itu. Jika seorang presiden harus membuktikan ia seorang Abi Thalib as yang berkuasa dengan adil dan memperlakukan para dhuafa dan fuqara yang penuh kasih sayang. Tidak seperti Carter dan Stalin, sebelum berkuasa Stalin juga berjanji mengabdi pada umat manusia dan membiarkan mereka hidup bebas, tetapi ketika ia berkuasa ia babat semuanya. Carter juga demikian.

Tidak ada klaim dalam ujian dan lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil. Karena itu setiap penguasa dan pemilik jabatan, apapun jabatannya hendaklah menyadari bahwa ujian itu yang mereka hadapi amat berat dan penuh rintangan. Mereka harus instrospeksi diri sejauh mana perbedaan keadaan sebelum dan sesudah mereka menjabat.

Kita semua akan menghadap pada Allah dan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan setelah mati. Oleh karena itu pikirkanlah apa yang bakal kita persembahkan kehadirat Allah Swt nanti. Jangan sekali-kali mempermainkan darah para syuhada’ dan jangan berebut kekuasaan. Kita yang mengecam AS jangan sampai malah melakukan pekerjaan AS. Ketika kekuasaan itu sampai pada kita, kita harus membandingkan apakah kita seperti khalifah Rasulullah atau malah seperti AS ? jika kekuasaan sama sekali tidak merubah kepribadian kita maka kita telah berhasil lolos dari ujian dan baru dapat disebut pengikut Rasululah SAW.

Wahai para penguasa kalian semua dalam ujian dan sepak terjang kalian diawasi oleh Allah dengan sesama.

Wahai para tentara kalian semua dalam ujian. Jaga amanah yang di titipkan pada kalian dan jangan sampai ada darah bersih yang tertumpah dengan percuma.

Mudah memang untuk mengatakan sesuatu tetapi justru setiap ucapan kita adalah ujian bagi kita sendiri. Orang yang mengklaim sebagai pecinta kemanusiaan akan di uji terhadap apa yang di klaimnya itu, yang mengaku pembela HAM akan di uji dengan ucapannya. Yang mengaku beriman akan di uji Allah tentang keimananya, dst.

Allah swt berfirman : “ apakah manusia mengira bahwa dia dibiarkan begitu saja ( tidak di uji ) karena mengatakan kami beriman ? “ ( Al-Ankabut 29:2 )

Oleh karena itu bertanggung jawablah terhadap apa yang kita ucapkan, berbuat segalanya hanya karena Allah dengan RasulNya. Jika hal itu yang mrnjadi tumpuan kita maka kita akan mencaoai pa yang kita cita-citakan, insya Allah.

*) di adaptasi dari buku Pesan Sang Imam

oleh Ruhullah Al MUsawi