Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 05/th.IV/Mei/01

Mahasiswa Bicara;
Berfikir rasional dan logis dalam beragama

"Tuhan sekarang tengah berada dalam kamar yang tertutup rapat
dan kita diberi kemampuan untuk berusaha mengintip dan membukanya." (kata seorang mahasiswa)

 

Salam cinta bagi pembaca budiman.
Predikat inheren yang memisahkan manusia dengan benda lainnya (cair, padat dan gas) adalah keberkembangannya. Diferensia yang memisahkan manusia dari tumbuh-tumbuhan adalah keberkeinginannya. Sedangkan yang memisahkan manusia dari hewan adalah keberakalannya.
Manusia sendiri pada fitrahnya ingin mencari dan menyembah kekuatan suci dan maha dahsyat diluar dirinya untuk di Tuhankan. Konsekuensi dari penyembahan tersebut dalam konteks hikmah diturunkannya para nabi adalah dengan memeluk suatu agama sebagai bukti pengabdian, yang ketika didalami akan menimbulkan kebutuhan untuk menghayatinya.
Lalu dalam beragama bagaimana meletakkan peran akal yang notabene merupakan potensi terbesar yang dimiliki manusia? Ataukah cukup berdasarkan keyakinan dan insting ansich?

Tuhan dan Akal Manusia
Beberapa Mahasiswa mengungkapkan bahwa akal manusia tidak bisa digunakan secara total untuk meyakini suatu agama karena akal itu terbatas. Keterbatasan ini karena ada wilayah tertentu yang tidak bisa di tembus oleh akal seperti takdir dan pelogikaan dzat Tuhan.
Takdir merupakan ketentuan Tuhan yang merupakan otoritas mutlak Tuhan sebagai penentunya. Sedang pelogikaan Dzat Tuhan tidak akan pernah bisa dilakukan karena akal kita tidak akan pernah sampai kesana dan logika Tuhan tidak sama dengan manusia, Tuhan tak terbatas dan manusia terbatas.
Ada juga yang mengatakan bahwa ada ketakutan-ketakutan ketika menggunakan akal karena kekuatan akal tidak bisa dipertanggungjawabkan ketika bertentangan dengan kepercayaan kolektif masyarakat.
Tapi disisi lain ada rekan mahasiswa yang berpendapat bahwa selama ini ajaran agama sering didapat lewat proses indoktrinasi sehingga tidak ada upaya untuk berfikir dan merenung. Hal ini dalam realitasnya menimbulkan kontradiksi pada pemahaman akan kitab suci yang di anutnya. Dengan demikian diperlukan rasionalisasi dalam beragama.
Sebuah statemen yang menarik dari seorang rekan mahasiswa yang mengatakan bahwa masing-masing agama punya perspektif sendiri mengenai Tuhan dan karena itu seandainya semua agama ini bersatu dalam satu meja dan mencoba menggabungkan berbagai perspektif mengenai Tuhan maka akan didapat sebuah gambaran Tuhan dalam bentuk "lima dimensi" yang terintegrasi dan komprehensif sehingga setiap umat beragama mampu memahami Tuhan dalam wujud yang sebenarnya.
Faktor apa kemudian yang dominan dalam meyakini suatu ajaran agama sebagai pilihan hidup ? Dialog dengan beberapa rekan mahasiswa, terungkap bahwa yang dominan dalam proses keyakinan seseorang ketika menerima ajaran-ajaran agama adalah peran keluarga sebagai entitas pertama yang mengajarkan akan bagaimana meyakini sebuah agama, walaupun (seorang rekan mahasiswa menambahkan) semua itu hanya berupa doktrin-doktrin yang belum pernah diyakini dan renungkan kebenarannya.
Oleh karena itu persoalan tentang agama dan peran akal yang tidak banyak mendapat perhatian intelektual kecuali hanya doktrin-normatif itu membuat persoalan seperti yang diungkapkan rekan kita berikut ini:" kebebasan untuk berfikir dan memilih sudah ada maka muncullah semacam kegelisahan spiritual yang mencoba untuk memahami agama lewat proses rasionalisasi dan bebrbgai pengalaman spiritual."

Khatimah
Dari beberapa dialog dan diskusi yang telah kami lakukan dengan beberapa rekan mahasiswa tentang tema berfikir rasional dan logis dalam beragama tercatat bahawa untuk menjawab kegelisahan spiritualnya akan suatu kebenaran yang bukan sekedar doktrin maka ditgunakanlah akal dan pengalaman spiritual yang keduanya saling melengkapi dan kadangkalanya juga terjadi proses tarik-menarik. Akan tetapi terkadang ada pula ketakutan akan penolakan oleh masyarakat terhadap kebenaran yang mungkin ditemukannya.
Keyakinan-keyakinan baru kadang menimbulkan konflik dalam kehidupan sehingga agar tidak terjadi kesalahan berfikir dalam mengambil keputusan dan berbicara kita perlu mempelajari dan menguasai cara memfungsikan akal.
Yang jelas buat kami peran akal sangat penting untuk menimbulkan kesadaran diri dalam beragama yang bukan hasil doktrin semata. Akal kita jangan pernah lelah untuk mendekati Tuhan yang tak terbatas. Bagaimana dengan pandangan saudara ???