Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 07/th.IV/Juni/01

Salam cinta Pembaca yang Budiman,

Secara fitrah manusia itu punya naluri untuk berkelompok, ada kerinduan untuk selalu berkelompok baik dalam bentuk yang formal atau nonformal sekalipun. Kali ini kita ingin mendengar beberapa catatan kecil tentang bagaimana kehidupan kelompok pada level mahasiswa. Tentang bagaimana korelasinya antara kesadaran dan pola pikir di tingkat kelompok dengan wujudnya dalam tingkat individu. Disini perihal persoalan yang ingin kami lihat.

Dalam bincang-bincang itu kami menemukan beberapa fakta menarik bahwa kesenangan untuk berkelompok atau bisa di sebut di sini sebagai organisasi, itu sangat di pengaruhi oleh bagaimana individu itu menilai kelompok tersebut terlebih dahulu.

Penilaian itu kemudian yang menjadikan alasan terlibatnya mereka dalam kelompok. Mereka ingin menumbuhkan kepercayaan diri, mencari apa yang tidak di dapat di kuliah, belajar berhadapan dengan realitas serta usaha berpartisipasi dalam pemecahan masalah dalam dinamika kelompok.

Persoalannya ternyata ada hal-hal yang kemudian bisa menjadi sangat berbeda ketika membayangkan tentang bagaimana suatu kelompok itu, dengan ketika mereka terlibat atau masuk langsung dalam kelompok tersebut.

Dari yang terungkap, beberapa hal kemudian jauh melenceng dari apa yang terpikirkan tentang kelompok itu. Hampir setiap teman mahasiswa yang mengutarakan pengalamannya berkelompok mengalami kenyataan atau realitas yang berbeda ketika masuk dalam kelompok.

Beberapa hal jauh dari penilaian awalnya tentang bagaimana kelompok tersebut. Dalam banyak hal ternyata tidak banyak yang kemudian mengambil sikap untuk keluar dari kelompok tersebut. Lebih banyak kemudian yang mengakomodir kenyataan itu sebagai bagian dari dinamika kelompok. Komentar salah satu rekan mahasiswa yang mengatakan bahwa banyak hal yang saya bayangkan akan saya peroleh pada kelompok, pada kenyataannya mengalami kebuntuan dan kesulitan realisasinya.

“PIKIRAN KELOMPOK”

Dalam banyak hal ide-ide atau pikiran yang melandasi lajunya dinamika kelompok itu dipengaruhi oleh individu-indivu di dalam kelompok itu sendiri. Jadi arah dan perjalanan kelompok itu menjadi sangat ditentukan oleh gagasan-gagasan individu di dalamnya.

Tidak ada yang mesti dan ketat dalam kelompok tersebut ujar seorang rekan mahasiswa yang terlibat aktif dalam kelompok organisasi keislaman. Yang ada dan hadir adalah bagaimana kemudian apresiasi dan kesadaran pada tingkat individu dalam kelompok bisa mempengaruhi dan di apresiasi dalam kesadaran kelompok hingga kemudian bisa diterima sebagai apa yang dinamakan ‘pikiran kelompok’. Lewat pikiran kelompok itulah nampaknya individu dalam kelompok mengidentifikasikan dirinya dan kelompoknya.

Seorang rekan mahasiswa ketika dimintai komentarnya tentang sikapnya atas suatu topik sosial yang sedang hangat yang kami sodorkan, nampak sekali bahwa kesadarannya dan sikapnya atas topik itu dipengaruhi oleh pikiran kelompoknya. Katanya: “saya lebih baik diam atas persoalan topik itu sebab saya belum menemukan jawabannya pada kelompok saya”. Ketika di tanyakan mengapa demikian? Ditemukan bahwa apresiasinya terhadap suatu persoalan tertentu, sangat bergantung dari apa yang dipikirkan dan diapresiasi oleh kelompoknya.

Pikiran kelompok diam-diam sengaja atau tidak, telah membentuk pola pikir individunya secara ketat persis meniru pikiran atau apa yang dipikirkan kelompoknya. Jadi kelompok di satu sisi sangat dipengaruhi oleh gagasan dan ide individu di dalamnya, sekaligus juga individu sangat di pengaruhi oleh pikiran kelompoknya.

KHATIMAH

Apa yang dipikirkan tentang kelompok atau organisasi jelas tidak persis selalu bersesuaian dengan realitas kelompok itu sendiri ujar rekan mahasiswa yang juga aktif pada pergelutan kelompok.

Yang bisa kita peroleh dari dunia aktivitas berkelompok justru ketika kita mempertahankan apa yang kita pikirkan tentang kelompok sebelumnya. Ketika kita berbagi, saling mempengaruhi dan saling berkompromi dengan situasi dan realitas kelompok. Di sini menurut kita hikmah terbesar berkelompok atau berorganisasi. Namun juga tidak jarang banyak teman-teman yang aktif dalam kelompok dengan kepasrahan bahwa dia akan menemukan banyak hal bermamfaat dalam aktivitas berkelompok. Yakni seperti dituturkan oleh seorang rekan, untuk mencari hal baru dan wawasan yang berbeda yang belum dirasakan sebelumnya.

Dari kelompok juga dapat terbaca bahwa dunia kesadaran akan sesuatu bisa sangat bergantung dari bagaimana kelompoknya melihat dan berkesadaran. Seperti seorang teman aktivis keislaman yang mengatakan bahwa dalam banyak hal katanya apa yang didapatnya dan dipahaminya adalah apa yang didapatnya lewat pengertian dan pemahaman kelompoknya terutama dalam hal ini tsaqofah atau ustadnya.

Sepertinya perihal hidup berkelompok terutama kelompok dalam dunia mahasiswa tentu sangat luas dan berjenis. Dari rekan mahasiswa kita yang terlibat dalam bincang-bincang dalam topik ini, kita melihat bahwa banyak harapan diletakkan kepada kelompok untuk bisa membuka kesadaran dan meningkatkan keterampilan individu yang ingin terlibat dalam kelompok. Namun juga tidak selalu harapan itu bersesuaian dan terealisasi.

Ada banyak hal yang kemudian berbeda antara penilaian dari luar kelompok dengan realitas atau bagaimana kelompok itu sendiri hidup dan bertradisi. Menurut seorang teman kita, hikmah terbesarnya berkelompok atau berorganisasi yakni ketika dia kemudian tidak larut dengan apa yang terjadi di kelompoknya tetapi ikut mempengaruhi dan memperjuangkan tentang apa yang dia anggap sesuai dengan penilaian kelompok  dia sebelumnya. Bagaimana pendapat Anda!

Wallahu’alam bi al-shawab



Imam Ali Bicara Tentang Kerjasama Masyarakat*)

Murtadha Muthahhari**)

“ Sekiranya ada seseorang yang hanya mempunyai  hak atas yang lain dan yang lain tidak mempunyai hak atasnya, itu adalah Zat Allah SWT Yang Mahasuci” (Imam Ali as.)

 

Mengapa demikian? Karena hak yang Dia miliki atas hamba-hamba-Nya bukan berarti manfat dan keuntungan yang diperoleh-Nya dan sebagai gantinya akan menuntut kewajiban dari-Nya. Pemahaman yang demikian hanya berlaku atas para makhluk, di mana satu sama lain saling memberikan manfaat. Allah SWT adalah Zat Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Karunia. Pada alam ciptaan ini, setiap makhluk memberikan pengaruh dan saling memberikan manfaat.

Demikian juga dalam sistem kemasyarakatan, hak dan kewajiban masing-masing telah ditetapkan. Antara anggota masyarakat saling memperoleh dan memberikan manfaat hingga masyarakat mampu meniti dan mencapai kesempurnaannya.

Adapun Allah SWT Yang Maha Suci terlepas dari pemahaman-pemahaman yang demikian. Segala sesuatu yang berasal dari Zat Yang Maha Mulia kepada hamba-Nya semata-mata adalah karunia-Nya. Itu semua merupakan ikhsan dan kedermawanan dari-Nya. Semua yang ada pada makhluk bahkan seluruh wujudnya adalah milik dan berasal dari-Nya.  Disini hak dan kewajiban satu arah. Allah SWt telah berfirman, “Allah SWt tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekahl yang akan ditanyai “(Q.S. Al-Anbiya:23)

Imam Ali as melanjutkan pembicaraan- nya,” Yang terpenting dari hak-hak yang ditetapkan Allah di alam ini adalah hak pemimpin atas rakyatnya dan begitu juga sebaliknya, hak rakyat atas pemimpinnya. Hak-hak inilah yang merupakan landasan bagi sistem yang mengarah kepada penciptaan keharmonisan dan kehormatan bagi setiap individu yang merupakan anggota masyarakat. Seandainya hak-hak tersebut dipatuhi dan dilaksanakan bersama-sama secara timbal-balik, dapat dipastikan bahwa hak semua orang secara mutlak dihormati, tugas agama menjadi benar dan terlaksana, begitu juga kondisi lingkungan dan waktu menjadi baik.

“engkau jangan beranggapan bahwa kebaikan yang ada pada diri saya cukup untuk mengadakan perbaikan pada semua urusan,. Saya secara pribadi, hingga derajat tertentu, selalu berusaha untuk menjaga dan melaksanankan kewajiban yang berada di atas pundak saya dan hak-hak yang engkau miliki. Namun ini saja tidak cukup, engkau juga harus benar. Sebagaimana saya  berusaha menjaga  hak-hak yang kamu miliki, engkau juga harus menjaga apa –apa yang menjadi hakku, Dengan demikian, semua urusan dapat berjalan dengan benar dan bergerak mengelilingi poroosnya

Salah seorang sejarawan  pada abad kita ini setelah melaksanakan pengkajian mengenai biografi dan pemerintahan Imam Ali as. Mengatakan ,”Dari sini dapat diketahui bahwa  adanya pemimpin dan khalifah yang sadar, adil, hanya menginginkan kebaikan dan keridaaan Allah SWT saja, itu tidaklah cukup untuk menyelesaikan kesulitan dan permasalahan yang timbul. Di sini rakyatpun dituntut harus mengetahui dan sadar akan hak dan kewajiban mereka. Rakyat harus sadar dan mempunyai keinginan untuk menegakk-kan  keadilan:”

Amirul Mu’iminin as. pada salah satu surat yang dia tujukan kepada salah seorang pembantunya mengatakan, ”Adapun hak yang dimiliki rakyat atas pemimpinnya ialah seorang pemimpin tidak boleh mengubah akhlak dan perilakunya, karena nikmat dan karunia yang diperolehnya. Dia tidak boleh sombong  karena kepemimpinannya. Begitu juga dia tidak boleh menciptkakan batas pemisah antara dia dan rakyatnya. Dia harus dekat dengan rakyat.

Sementara hak yang kamu miliki atasku ialah bahwa aku tidak boleh menyembunyikan sesuatu perkara kepadamu, kecuali hal-hal yang berkaitan dengan rahasia-rahasia perang,. Aku tidak akan sekali-kali melakukan seuatu tanpa bermusyawarah terlebih dahulu denganmu, kecuali hal-hal yang merupakan kewajiban yang telah ditetapkan ajaran Islam. Aku memandang kamu semua dengan pandangan yang sama.”

Setelah menjelaskan hal-hal di atas, Imam Ali as. melanjutkan pembicaraannya dengan tema yang lain. Beliau berkata, “Siapapun yang memiliki derajat setinggi apapun, tidaklah boleh mempunyai anggapan bahwa dia mempunyai kedudukan sedemikian tinggi hingga sama sekali tidak memerlukan kerjasama dengan yang lain. Begitu juga terhadap orang yang dianggap mempunyai keduduikan  yang rendah dan tidak terpandang, tidaklah boleh seseorang  berpikiran bahwa seseorang itu orang sedemikian rendah  hingga tidak layak untuk diajak bekerjasama atau menbantu dirinya. Tidak seorang pun lebih tinggi dan lebih rendah dari kedudukan kerjasama sosial . Semua orang  mempunyai keperluan dan keperluan ada pada setiap orang”

Ungkapan di atas berkenaan dengan kerjasama yang harus dilakukan untuk memenuhi hak-hak masing-masing. Semua orang harus harus melalui usaha kerjasama untuk mencapai persatuan dan memenuhi apa yang menjadi haknya. Allah SWt telah berfirman dalam Alqur’an: ”Dan tolong-menolonglah kamu dalam dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Q.S Al Maidah:5)

*) Diadaptasi dari Jejak-Jeka Ruhani (1996)

**) Ulama dan Aktifis Revolusi Islam Iran