Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 08/th.IV/Juli/01

MANUSIA IDENTIK DENGAN

SESUATU YANG DICINTAINYA*)

Murtadha Muthahhari**)

Jika Anda memburu benda, maka Anda adalah benda itu. Akan tetapi,

jika Anda memburu jiwa, maka Anda adalah jiwa itu sendiri.” (Syair)

Pembahasan ulama muslim mengenai keidentikan manusia dengan apa yang mereka pikirkan atau bahwa manusia adalah apa yang mereka inginkan buat mereka sendiri lebih baik dari Sartre. Shadr Muta’allihin adalah filsuf muslim terbaik yang membahasnya.

Masalah ini mempunyai dasar qur’aninya. Bahwa setiap eksistensi adalah itu sendiri, kecuali manusia yang nanti pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan pelbagai rupa :” Pada saat sangkakala ditiup, maka mereka datang berkelompok-kelompok” (Q.S. An-Naba :18) Dan hanya sekelompok manusia yang dibangkitkan dengan rupa manusia, sementara golongan yang lain dibangkitkan dengan bentuk binatang yang beraneka ragam.

Manusia tidak harus berbentuk manusia. Tetapi manusia dapat membentuk dirinya sendiri sebagai manusia. Begitu pula manusia dapat menjadikan dirinya serigala atau anjing bahkan babi dan lainnya. Tergantung kebiasaan apakah yang dilakukannya di dunia. Maulana Rumi mengungkapkan bahwa manusia adalah apa yang dipikirkan nya, beliau ungkapkan dalam sebuah syair:

Duhai saudaraku!Anda tiada lain adalah pikiran selainnya, adalah bongkahan tulang dan jambang

Jika bunga dipikiranmu semarak,

maka Anda aromanya yang semerbak.

Sekiranya pikirannya itu duri,

maka Anda adalah duri itu sendiri.

Kalau Anda menanyakan kepada Maulana Rumi:,”Siapakah manusia itu?” Niscaya ia akan menjawab :”Manusia tiada lain adalah apa yang ia pikirkan.”

Kalau Anda menyakan pada Maulana Rumi tentang siapakah diri Anda sebenarnya? Dia akan balik bertanya pada Anda:” coba sebutkan pikiran apakah yang selalu menggeluti Anda, dan aku akan mengatakan siapakah diri Anda.”

Jika hakikat kemanusiaannya yang selalu anda pikirkan, maka Anda adalah hakikat itu sendiri . Jika Anda selalu berpikir tentang Allah, Anda adalah manifestasi atau jelmaan dari Wujud Allah itu sendiri,. Jika Imam Ali as. adalah idola Anda, ketahuilah bahw aNada aadalah Imam Ali. Jika Nada berpikiran seperti Anjing maka adalah anjing.

Manusia identik juga dengan sesuatu yang dicintainya. Masalah tersebut sama dengan masalah sebelumnya yang mengatakan bahwa manusia apa adalah apa yang dipikirkannya. Pernyataan ini seringkali dijelaskan oleh pelbagai hadis ahlulBait. Diantaranya:” Barangsiapa mencintai batu (umpamanya, batu cincin) maka Allah akan membangkitkannya kelak beserta batu itu.” Mengapa demikian? karena, dia telah mengubah dirinya menjadi batu. Apa saja yang manusia cintai, maka akan mencerminkan identitas dirinya.

Seorang peduduk Khurasan yang amat jauh letaknya dengan Madinah datang menemui Imam Muhammmad Al-Baqir. Peasaan cintanya kepda beliau membawanya pergi ke Madinah dengan berjalan kaki. Perjalanan ini membuat terompahnya terkoyak-koyak dan kedua kakinya melepuh, ketika dia sampai di hadapan Imam, dia menyalami tangan Imam dengan perasaan cinta yang meluap-luap. Dia mengucapkan rasa syukurnya kepda Allah yang telah menyampaikannya ke Madinah untuk bertemu dengan kekasihnya. Kemudian, dia menunjukkan kakinya yang telah berlumuran darah kepada Imam Seraya berkata:”Duhai putra rasul! tubuhku tidak beranjak ke Madinah kecuali dengan dorongan kecintaan terhadapmu (ahlulBait). Dari Khurasan sampai Madinah kutempuh dengan jalan kaki.” Setelah tamu itu itu menyelesaikan pembicaraannya, Imam berkata :”Setiap orang identik dengan apa yang dia cintai.” Begitu pula, kelak dia akan dibangkitkan dengan dengan apa yang dicintainya. Seorang penyair berkata :” Jika Anda memburu benda, maka Anda adalah benda itu. Akan tetapi, jika Anda memburu jiwa, maka Anda adalah jiwa itu sendiri. Jika Anda memburu permata atau tambang bumi, maka Anda adalah tidak lebih dari benda mati” Bagaimana pendapat Anda (penyunting)

*)Diadaptasi dari Falsafah Akhlak; Kritik Atas Konsep Moralitas Barat (1995)

**) Ulama dan aktifis revolusi Islam Iran



MAHASISWA MEMILIH MAKANAN

“Yang terbaik diantara kamu kedudukannya disisi Allah Ta’ala adalah yang paling lama laparnya dan paling lama berpikirnya, sedang yang paling dibenci Allah Ta’ala diantara kamu ialah setiap orang yang terlalu banyak tidur, terlalu banyak makan, dan terlalu banyak minum.” (Imam Hasan as.)

Makan memang kegiatan yang selalu berhubungan langsung dengan kehidupan kita sehingga menjadi rutinitas biasa tanpa sarat nilai padahal dibalik rutinitas tadi terdapat nilai-nilai/ kenikmatan tersendiri bagi setiap kita ketika memilih dan menikmati makanan yang tidak dapat kita abaikan .

Makan sebagai kebutuhan untuk kelangsungan hidup dan pelaksanaan aktivitas sehari-hari akan selalu berkaitan dengan kondisi sosial setiap individunya dan budaya masyarakat. Khususnya bagi mahasiswa yang sebagian besar masih menggantungkan hidupnya dari kiriman orangtua. Kondisi semacam ini menimbukan pilihan-pilihan yang sangat menarik sekali untuk kita bicarakan.

Pada kesempatan kali ini, kami mencoba mendengar pengalaman mahasiswa tentang bagaimana mereka memilih makanannya.

Antara ‘angkringan atau fastfood’?

Dari hasil bincang-bincang dengan rekan mahasiswa muncul beberapa hal yang terungkap sehubungan dengan pilihan makan ini. Diantaranya adalah tentang pilihan makan antara angkringan atau fastfood.

Beberapa rekan mahasiswa yang suka makan di angkringan - yang menjamur dikota Yogya saat malam dan terkenal dengan nasi kucingnya- mengungkapkan bahwa angkringan merupakan tempat makan yang asyik untuk menikmati malam dan adanya suasana yang bisa ngobrol sepuasnya menjadikan angkringan sebagai,satu-satunya pilihan diwaktu malam yang dekat dengan tempat kost. Dan yang pasti harganya murah karena dengan uang 300 perak sudah dapat satu bungkus nasi kucing dan makanannya bermacam-macam. Serta angkringan ini menjadi alternatif terakhir ketika akhir bulan saat uang bulanan sudah menipis.

Sebaliknya ada juga rekan kita yang tidak menyukai angkringan karena ternyata jika dihitung-hitung harganya sama aja dengan warung jika makanan yang dibeli banyak. Rekan kita ini lebih suka makan di Kagama karena menunya berganti tiap hari dan layak dengan harga yang cocok dengan kantong mahasiswa. Alasan rekan lainnya adalah karena dia tidak suka menunya yang kering (tanpa kuah) dan gitu-gitu aja.

Sedangkan soal fastfood yang sekarang sudah menjadi lifestyle dan agak mengalahkan makanan lokal dengan kebijakan pasar bebas sekarang ini juga menjadi pilihan makan mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan fisiknya. Tapi meskipun sudah menjadi lifestyle ternyata ada juga beberapa rekan mahasiswa kita yang tidak menyukai makanan jenis ini. Alasan yang muncul paling banyak adalah karena harganya yang mahal yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan mahasiswa yang pas-pasan. Salah seorang rekan kita menyatakan bahwa rasanya nggak enak dan kurang cocok karena dia terbiasa makan makanan dari kampungnya bahkan setiap bulan pasti dikirim paket makanan oleh orang tuanya.

Fastfood yang berkolesterol tinggi dan sebagian besar merupakan jenis makanan khas Barat terkadang agak diragukan kesehatan dan kehalalannya oleh orang Indonesia yang sebagian besar muslim. Bahkan ada juga rekan yang mengatakan” saya khawatir itu menjadi ketergantungan bagi saya”

Tapi fastfood yang menawarkan kecepatan dalam penyajian, suasana tempat yang nyaman dan bersih serta grand image borjuis ini banyak juga diminati oleh para mahasiswa. Ada yang bermula dari gengsi, diantaranya yang sering makan disana beralasan kalau memang makanan yang disajikan memang enak, tempatnya bersih, dan itupun kadang hanya saat ada paket hemat dan momen tertentu saja.

Meskipun makan merupakan sesuatu yang agak konsumtif tapi dalam rutinitas tersebut ada juga yang masih tetap dipengaruhi kondisi spiritualitas dan psikologis masing-masing.

Saat semangat keagamaannya tinggi, ungkap seorang mahasiswa,, dari yang biasanya suka makan dan ngemil menjadi malas makan dan makan hanya seperlunya agar perutnya tidak sakit karena belum diisi makanan sebelumnya. Hal ini terjadi disebabkan ajaran agamanya untuk menyedikitkan makan dan adanya pemahaman bahwa tubuh ini hanyalah tempat jiwa bersemayam dan jiwalah yang akan tetap abadi sehingga jiwanya harus diberi makan dengan selalu mencari ilmu dan beribadah.

Dan saat-saat banyak beban tugas, masalah dan ujian ada beberapa teman kita yang melarikan diri ke makanan. Dari hal ini sangat nampak bahwa memang kondisi psikologis mempengaruhi selera makan kita.

KHATIMAH
Makan bagi mahasiswa sebagai kegiatan untuk kelangsungan hidup ternyata memang ikut berubah pola dan pilihan makannya ketika zaman semakin maju dan mengglobal. Makan bukan hanya rutinitas yang mungkin kadang menjemukan bagi seseorang, Dibalik itu juga ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Dari mayoritas pernyataan rekan mahasiswa kita uang menjadi faktor penting untuk menentukan jenis makanan kita dan ada faktor lainnya yang berpengaruh yaitu kondisi spiritual dan psikologis kita.

Pilihan makan akhirnya memang tergantung kepada kondisi mahasiswa sendiri. Bagaimana dengan pilihan makan Anda? Wallahu’alam bi al-shawab