Make your own free website on Tripod.com
Yayasan RausyanFikr Jogyakarta
Buletin Jejak, No. 09/th.IV/Juli/01

S M S

Penggunaan Short Message Service (SMS) fasilitas handphone (HP) kini sudah sangat rmerebak. SMS adalah pesan singkat berupa kirimen pesan tertulis.

SMS memang memudahkan, hanya dengan gerakan jari tangan dan biaya murah yaitu Rp 250 - Rp 350 per pesan kita sudah dapat mengirirnkan pesan dengan cepat. Di luar negeri kata seorang pakar multi media bahkan fasilitas SMS ini gratis karena dijadikan bagian dari service mereka.

Dalam www.satunet.com (03/6/2001) diberitakan bahwa saat sidang anggota DPR saling berkomunikasi dengan SMS, bahkan salah seorang anggota dewan mengaku memanfaatkan fasilitas ini dengan mengirim rata-rata 100 pesan setiap hari.

balam ruangan sidang dewan biasa kita saksikan banyak dari para anggota dewan sedang rmnggerak-gerakkan jari~jari tangannya. Kita melihat keadaan itu biasanya dari awal-hingga akhir persidangan.

Saiah seorang anggota dewan dari PAN dikutip satunet.corn di atas mengatakan: 'SMS telah memperbaiki cara kita berkomunikasi dengan sesama teman kita. SMS menyenanqkan, murah dan lebih cepat ketimbang telepon seluler untuk melakukan kontak'. Anggota dewan tesebut melihat bahwa SMS membuat para anggota dapat mlakukan pertemuan mini untuk berbicara. strategi, saling mengingatkan untuk tidak terprovokasi dengon pernyataan lawan politiknya, dan adanya deal-deal politik pada saat persidangan berlangsung.

Meialui fasilitas SMS, kita bisa mengirimkan pesan-pesan yang menggelikan, menjengkelkan, pernyataan cinta kepada sesama, bahkan merayu dengan kalimat-kalimat jahil. Di Dubai, katanya, (Republika, 16 Juli 2001) pesan SMS mendatangkan kontroversi keagamaan.

Seorang suami - yang sering marah karena isterinya sering lama mengirimkan pesan SMS. 'Anda saya ceraikan sebab lamban' . Ironisnya, pesan cerai sang suemi itu dihalaikon oleh Divisi Toick-Rujuk di Pengadilan Duboi AbdelSolom Darwish setelah mengetahui bahwa sang suami memang berhasrat menceraikan isterinya.

Kontroversi itu menjalar di Kuala Lurnpur, muftinya yaitu Datuk Hisharn Yahya dan pengadilan agarm di Singnpura menilai. keputusan cerai rnelalui SMS itu sah sesuai hukum agama.

Lain lagi yang terjadi dengcin seorang wisatawan Inggris yang terapung-apung di atas kapal kecil di Selat Lombok berhasil diselamatkan setelah mengrim pesan melalui pacarnya yang sedang rninum di sebuah pub di Ingggris, karena di kapal tersebut tidak merniliki radio komunikasi atau alat darurat lainnyo. (wwwsatunetcom)

SMS tidak hanya untuk ngerumpi atau rnengirimkan pesan nyeleneh lainnya, kata Roy Suryo,seorang pakar multi media.(Kedaulatan Rakyat, 17 Juli 2001). Roy rnengatakan bahwa SMS adalah sarana pengirinmn informasi yang aman dari penyadapan atau monitoring, karena informasi yang dikirimkan bukan berupa suara dan tidak dapat dideteksi isinya. SMS bisa dikembangkan untuk aplikasi unggul, seperti dalam sistem perbankan, kurs mata uang, harga saharn, sampai pada jadwal penerbangan.

Penggunaan SMS oleh para pengguna HP sekarang sudah 65% sejak kita bisa mengirirnkan pesan kepada pengguna HP dengan beberapa operator berbeda.

KHATIMAH

Mulai dari pesan biasa, pesan cinta, pesan nyeleneh, pesan politik, pesan ekonomi, pesan darurat hingga pesan cerai semua bisa di SMS. Kita memang sedang rnemasuki zona mabuk teknologi kata John Naisbitt.

Pesan SMS rnemang rnurah tapi fasilitasnya tetap mahal. Kita cenderung mudah larut dalarn fasifitas yang murah dan cepat, tapi terkadang mungkin kita lupa bahwa itu semua adalah bagian dari upaya ketergantungan pada teknologi, ibarat kecanduan dengan obat-obatan. Naisbitt bahkan mengatakan zona kita sudah mabuk dengan teknologi.

Kita tentu tidak menafikan realitas itu, tetapi juga kita perlu melihat dalam konteks apa teknologi itu dibuat dan dalam konteks bagaimana teknologi difungsikan. Sehingga keberadaan sebuah teknologi baru tidak melupakan kita pada fungsi sederhana kemanusiaan kita. Seperti kunjung-rmngunjungi (silaturrahmi), pesan-pesan persahabatan, dan cinta yang interpersonal communication dalam arti kehadiran fisik dalam pergaulan penting karena tidak hanya menyangkut pesan tekstual tetapi juga pesan nonverbal yang itu kita bisa baca dan maknai lewat kehadiran bersama secara f isik.

Belum lagi kita bicara nmngenai jarak sosial yang ditinggalkan oleh kepesatan teknologi. Berjarak dengan diri kita sendiri adalah realitas yong dikaji oleh Naisbitt dalam buku terbarunya High 7ech, High Touch. Ciri instan teknologi bertolak belakang dengan kebutuhan untuk rnerenungi sisi ruhani kita yang perlu waktu dan ketekunan untuk berpikir hal-hal yang mendalam dan lama serta berulang-ulang. Dan pesan kepada sisi ruhani itu tidak bisa instan apalagi lewat SMS.

Maka manfaatkanlah SMS sebagai hasif kreatif akal manusia tetapi sensitif pula dengan kekuatan yang selama ini mungkin jarang menjadi perhatian kita: ‘RUHANI.’. Cita telah mengalami kepesatan akal, tapi lambat dalam kemampuan ruhani kita' kata Alexis Carrel. 'Agama memberikan cinta dan merupakan musik kehidupan, sains murni diperlukan di dalam kehidupan, tetapi sains saja tidak akan pernah mencukupi', kata George Sarton.

Wallahualam bi al-shawab. Bagaimana pendapat Anda!


BUDAYA GLOBAL DAN

PENTINGNYA PANDANGAN DUNIA

A.M. Budak*)

Dalam hidup kita yang begitu didominasi dengan teknologi dan kecenderungan budaya massa yang sangat massif ada satu hal yang kiranya menarik dan penting untuk selalu kita renungkan, adakah semua kecenderungan yang berlangsung di luar diri kita itu mampu kita serap arti dan rmknanya? Apakah semua inforrmsi itu dapat kita beri makna sesuai dengan nilai yang kita anut?, ataukah justeru kita sesungguhnya belum mmiliki sebuah nilai yang dapat didetailkan menjadi sebuah pandangan dunia yang rmnunjukkan orientasi kehidupan kita sesungguhnya.Kita di sini tidak akan mmbicarakan tentang nilai dan pandangan dunia, kita hanya ingin melihat bagaimana sulitnya tanpa pandangan dunia karena akan berpengaruh pada kemampuan kita untuk beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat, yang kemampuan itu akan dapat membantu kita untuk terus membangun harapan dan optimism yang mencerahkan perjalananan hidup kita.

Bukan persoalan yang rnudah rnemang untuk dapat terus bertahan dalam kecepatan dan percepatan budaya, panah kehidupan telah melesat jauh dari busurnya, banyak sudah yang terkena panah tersebut dan kemudian mati secara budaya, rnereka hidup dengan fungsi-fungsi biologisnya, tetapi rmreka telah menemui ajal kemanusiaannya.

Keadaan ini, bukanlah sebuah wabah yang menyerang dalam lingkup manusia yang terbatas pada yang 'kurang gizi', bahkan yang cukup gizi kehidupan dan juga telah mabuk dengan seluruh eksploitasi realitas materi telah dimintai pertanggungjawaban oleh zamannya.

Kita ditagih oleh suara kecil dari lorong di sekitar hati nurani kita, ada sebuah teriakan kecil yang sudah menurnpuk untuk kernudian mencari saluran pelampiasannya. Pelampiasan itu adalah sebuah gejala budaya yang instan dan mencari jawabannya akan tekanan hidup itu pada model yang bertendensi mistikal-religius yang itupun dibentuk oleh kecenderungan pola budaya instan, dan tentu realitas ini harus kita pandang sebagai sebuah konstruksi budaya baru masyarakat global.

Kita sering membaca dan mendengar bagaimana pola budaya masyarakat gloibal saat ini. Naisbitt tahun 1999 bercerita tentang masyarakat yang telah memasuki zona mabuk teknologi. Teknologi yong katanya untuk manjamin kenyamanan manusia modern justeru kini telah membuat kita mabuk, kata Naisbitt. Pada saat yang sama masih banyak masyarakat yang hidup dipinggiran kepesatan teknologi, mereka melihat semua itu dan sekali-kali mencerca dunia modern tanpa pernah mereka paham dinamika dunia modern itu sendiri, rmereka pada saat yang sama sedang menikmati serpihan hasil peradaban modern, sambil mencerca juga menikmti hasil dari peradaban yang dicerca tersebut. Antara yang mabuk dan yang belum mabuk dengan hasil peradaban modern ini dua-duanya hidup, dipinggiran lingkaran eksistensi manusia.

Kita mernbutuhkan manusia yang ada dalam dunia modern tetapi tidak mabuk dengan teknologi dan gegar budaya ini. mereka tetap mampu rnengaitkan eksistensi dunia modern dengan orientasi kehidupannya yang sejati yang berkaitan dengan bagaimana tetap memahami dinamika zaman itu tetapi berpegang kepada sebuah trad:si yang dibentuk realisme instinkntifnya (fitrawi).

Realisme ini adalah sebuah pandangan dunia yang melihat bahwa semua gerak alam ini belandaskan pada gerak ruhani yang berkembang dalam diri rnanusia itu sendiri. BahwaA manusia tidak mungkin melawan kecenderungan dirinya kecuali mengendaikan dan rmletakkan pada fungsi di mana kecenderungan itu harus diletakkan sesuai dengan falsafah penciptaan dirinya sendiri. Ini memang berat, tetapi demikianlah tugas manusia adalah mengenai kecenderungan dirinya dan kernudian mengatur kearah mana kecenderungen dirinya harus dibawa dan diletakkan. Bagaimana meletakkan dan membawa kecenderungan inilah yang diperkenalkan oleh pandangan dunia agama yang selama ini banyak dikesankan oleh barat dengan semata bahwa Agma (Islam) hanyalah berkaitan dengan ajaran doktrin norrmtif semata (lihat misalnya pendapat Danah Zohar dalam buku terbarunya bersama sumainya : Spiritual Intelligence) tanpa melihat bahwa agama (Islam) justeru harus dikenal pada awalnya dengan sebuah argumentasi rasional-historis bukan dengan doktrin-norrmtif. Dan inilah pandangan dunia mampu rnenunjukkan konsteks universalitas Agama Islam.

Wallahualam bi-al--shawab Begaimana pendapat Anda!

*) Petugas Perpustakaan RausyanFikr